Peta Jalan Riset

Peta jalan akan membantu dalam menemukan sesuatu yang baru. Apa yang berbeda dari karya kita, tidak mungkin bisa dipaparkan tanpa membuka diri dengan melihat karya-karya orang lain. Sudah tidak waktunya bersikukuh, dan berpendapat bahwa apa …

Peta jalan akan membantu dalam menemukan sesuatu yang baru. Apa yang berbeda dari karya kita, tidak mungkin bisa dipaparkan tanpa membuka diri dengan melihat karya-karya orang lain. Sudah tidak waktunya bersikukuh, dan berpendapat bahwa apa yang kita hasilkan, murni belum tersentuh oleh orang lain. Rasanya dengan perkembangan sekarang, semua isu begitu cepat berkembang dan disambut, bersahut-sahut. Hari ini muncul suatu isu, tidak berapa lama akan dihasilkan sesuatu. Namun apa yang dihasilkan dari orang lain, bisa jadi semacam puzzle yang butuh pendalaman dari banyak orang yang berbeda.

Tidak semua orang mampu menuntaskan karyanya secara utuh. Maka yang digarap bisa jadi sebagian kecil, yang pelengkapnya akan dilakukan banyak orang setelahnya. Namun membuka diri untuk melihat orang lain, tidak semua orang mampu melakukannya.

Barangkali kita memiliki pengalaman berhadapan dengan orang yang bijak, rendah hati, juga mereka yang sombong dan angkuh. Seorang peneliti yang rendah hati, selalu akan menyebutkan bahwa sebaru apapun temuannya, tetap ada potensi terbatas, dan butuh orang lain untuk menyempurnakan. Sementara mereka yang angkuh dan sombong, selalu menganggap temuannya sebagai rujukan satu-satunya. Tanpa kecuali. Posisi yang kedua ini, bisa ditemui dalam berbagai strata kehidupan. Dulu saya berpikir kesombongan itu hanya dimiliki oleh orang berada semata. Orang-orang yang secara ekonomi berlebih, secara politik berkuasa, maupun secara ilmu juga mapan. Ternyata tidak tentu. Ada orang yang kaya namun  kaya rasa dan hati terhadap sesama. Mereka yang berkuasa ada yang sangat dekat dengan rakyatnya. Atau mereka yang berilmu, seyogianya memang semacam padi yang semakin berisi akan terus menunduk.

Tipe orang yang sejuk itu selalu ditandai oleh kekayaan hati. Ada pengakuan bahwa setiap pemikiran atau temuan, didapat dengan proses yang tidak sempurna. Atas dasar itu, hasilnya pun tidak sempurna dan butuh orang lain untuk menyempurkannya kemudian hari. Orang bijak yang saya kenal, memperingatkan bahwa ketidaksempurnaan itulah yang seharusnya menjadi berkah bagi mereka yang akan mendalaminya. Dengan kondisi demikian, mutualisme dan saling mendapat manfaat tetap ada.

Tidak bisa dihindari juga, berbagai temuan itu didukung oleh temuan-temuan sebelumnya. Sesuatu yang baru ditemukan oleh seseorang, pada dasarnya berakar dari temuan orang lain dalam bentuk yang bisa saja berbeda. Temuan yang satu akan memberi inspirasi, kreasi, bahkan semangat bagi yang lain. Dengan inspirasi, orang jadi berpikir berbagai alternatif lain dari temuan orang sebelumnya. Pada saat yang sama, kreativitas yang dimiliki memungkinkan rumus-rumus lain terus dicoba. Inspirasi dan kreasi, ketika bertemu dengan semangat yang menyala, akan mempercepat capaian hasil. Tentu bukan saja hasil yang sempurna, tidak sedikit orang berhadapan dengan hasil sebaliknya, gagal. Hingga di sini, bukan suatu kebetulan ada ungkapan yang menyebutkan kegagalan adalah kemenangan yang tertunda. Mereka yang mendapatkan kegagalan, dengan kegigihan untuk selalu menyempurnakan, akan mempercepat pencapaian hasil yang lebih baik.

Dalam setiap kajian, terutama dalam tahap mempertajam fokus, kajian yang pernah dilakukan orang lain menjadi sangat penting. Sebagaimana sudah diungkapkan sebelumnya, dengan tema kajian yang sama, selalu ada fokus yang bisa ditangkap berbeda. Apa kita pandang belum tentu sama dipandang oleh orang lain. Seperti seorang pemotret yang memandang keindahan menurut versinya yang bisa berbeda dengan pemotret lain. Sehingga dengan berbagai pengalaman dan kajian sebelumnya, akan memberi peta jalan lebih dalam untuk menemukan temuan yang baru itu.

Bukankah kondisi saling memberi dan menerima itu tercermin dari peta jalan ini? Orang yang melakukan kajian dan menemukan sesuatu yang baru, tidak mengabaikan ada sesuatu yang dilakukan oleh orang sebelumnya. Demikian juga ketika temuan yang baru itu, oleh orang selanjutnya akan dijadikan peta jalan untuk menemukan sesuatu yang lebih baru. Makanya orang-orang yang bijak dapat melihat kondisi kesalingan itu tidak hanya dengan mata kepala, melainkan juga dengan mata hati. Ada rasa dari dalam jiwa yang turut digunakan, sehingga memungkinkan tidak timbulnya klaim peran yang terbeda dari banyak rangkaian orang lain. Dalam dunia yang tidak hampa, selalu memungkinkan adanya saling koneksi dan menangguk keuntungan atas koneksi tersebut.

Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.

Leave a Comment