Potret Belakang

Apa yang kita lihat, sesuatu yang sudah tampil di depan, belum tentu selaras dengan apa yang diusahakan di belakang. Tampilan di depan, merupakan usaha dan kerja keras termasuk oleh mereka yang berada di belakang. Setiap …

Apa yang kita lihat, sesuatu yang sudah tampil di depan, belum tentu selaras dengan apa yang diusahakan di belakang. Tampilan di depan, merupakan usaha dan kerja keras termasuk oleh mereka yang berada di belakang. Setiap even, orang-orang tidak melupakan yang disebut dengan orang-orang yang di belakang layar. Kontribusi banyak pihak, hingga sesuatu yang tampak tampilan yang terlihat di depan.

Logika demikian, membuat kedua pihak harus saling mendukung. Bisa jadi ada yang menyebut sebagai kondisi tidak adil. Mereka yang berada di depan sebagai pihak yang paling dominan dikenang. Berhasil atau tidak suatu even, mereka yang mendapat sorotan. Sedangkan orang-orang di belakangnya, paling-paling hanya diketahui nama.

Mereka yang di belakang, sudah rela pada pilihan demikian. Implikasi dari pilihannya sudah diketahui dari awal. Berbagi urusan, dengan konsekuensi masing-masing, telah disadari saat segala sesuatu mau dilakukan. Menyadari hal ini dari awal hingga akhir, akan membuat suasana selalu stabil. Tidak ada yang perlu merasa harus bertukar peran, dan semacamnya.

Kesadaran ini yang dipahami oleh mereka yang bergelut dalam bisnis warung makan. Sekali lagi, potret warung makan menjadi contoh paling konkret untuk melihat ada hubungan antara depan dan belakang. Keduanya harus saling bersatu, untuk mencapai hasil penjualan yang bagus. Ada seorang guru sekaligus kolega, setiap makan bersama, mengingatkan satu hal. Ketika sedang makan, seyogianya tidak datang ke belakang –tempat makanan diolah. Warung-warung pada masa lalu, banyak yang di belakang warung kurang bersih, jorok, dengan sisa makanan dibiarkan tergeletak di mana-mana. Orang-orang yang ke belakang, biasanya akan berpikir ulang untuk kedua kalinya datang ke warung yang sama. Akan tetapi sekarang sudah banyak berubah. Rata-rata warung sudah membuka akses selebar-lebarnya untuk pengujung, mulai depan hingga belakang. Tidak jarang, ada warung besar, kita bisa melihat secara langsung bagaimana makanan yang akan disajikan untuk pengunjung diolah begitu rupa.

Seterbuka apa pun, sebuah warung tetap berhasil dengan kerjasama yang apik antara depan dan belakang. Orang-orang yang menjaja, bersama timnya di depan, kelembutan dalam menawarkan, sepenuh hati dalam melayani, cerdas dalam menerima keluhan pelanggan, sangat tergantung dari tim belakang. Pada akhirnya, sebagian besar keluhan dari pelanggan adalah akibat dari kerja orang belakang. Orang depan selalu akan melanjutkan ke belakang, bila ada keluhan demikian. Sebaliknya, untuk berbagai pujian dari pelanggan, orang di belakang yang semesti mendapatkan, jarang menerima pujian-pujiannya.

Potret ini yang menarik untuk menggambarkan pembicaraan orang-orang penting. Anak-anak muda yang dibentuk ketokohan oleh teman-temannya, pada dasarnya semua potret kebangunan tidak seutuhnya milik yang bersangkutan. Ketika seseorang ingin “diorangkan”, orang yang “mengorangkan” merasa ada sesuatu yang sama –atau paling tidak akan mendapatkan keuntungan –terutama non materi, ketika melakukan sesuatu untuk orang lain. Apa pun yang diungkapkan oleh orang yang ingin “diorangkan”, akan dirasa selalu sebagai sesuatu yang luar biasa. Apapun, dan selalu.

Kadangkala tidak lagi atas benar dan salah. Yang mendominasi, saya menyukai atau tidak. Ketika seseorang suka terhadap sesuatu, maka orang lain yang berbeda akan dicari berbagai alasan untuk bisa me-negatif-kannya. Untuk orang yang tidak disukai, hampir tidak ada sesuatu yang bisa diharapkan diambil sebagai sesuatu yang berguna.

Apa yang kita suka, apa yang kita benci, berujung kepada sepositif atau senegatif apa sasaran itu kita bayangkan. Secara kolektif, apa yang positif dan apa yang negatif, sebagai bentukan dari suka atau tidak, terbentuk tidak hanya melalui seseorang atau beberapa orang. Ada banyak orang. Maka ketika sesuatu yang positif atau negatif, diungkapkan melalui seseorang, pada dasarnya orang itu hanya melanjutkan dari orang lain. Seperti corong, orang itu hanya –pada saat itu—menjadi penyampai ke orang lainnya. Padahal ide dan semacamnya, secara kolektif, dibangun di belakang layar. Pengemudi, yang sebenarnya hanya memegang kemudi, bukan pemegang kendali.

Leave a Comment