Selalu Menunggu Masukan

Kita sering tidak siap dengan berbagai masukan dari orang lain. Saya teringat pesan seorang bijak. Kadang-kadang ada masukan yang baik disampaikan orang lain, namun sering kita abai hanya karena cara ia sampaikan yang tidak sempurna. …

Kita sering tidak siap dengan berbagai masukan dari orang lain. Saya teringat pesan seorang bijak. Kadang-kadang ada masukan yang baik disampaikan orang lain, namun sering kita abai hanya karena cara ia sampaikan yang tidak sempurna. Sebaliknya, kita sering mengambil pelajaran yang salah hanya gara-gara orang yang menyampaikan pelajaran itu begitu mempesona. Jadi sangat penting, hal yang baik disampaikan dengan cara yang menarik. Itu dari pihak kita. Sedangkan dari orang lain, kita harus berusaha belajar untuk menerima yang baik dari orang lain, walau cara ia sampaikan tidak menyenangkan.

Intinya menerima masukan. Jika dengan masukan itu akan menyempurnakan –atau mendekati sempurna—keadaan kita, bukankah lebih baik untuk diambil hikmahnya? Kita perlu belajar dari banyak orang, terutama untuk memperbaiki kualitas hidup kita.

Saya ingin menceritakan satu pengalaman. Barangkali Anda tidak percaya melihat tampilan seorang guru saya yang banyak publikasi internasionalnya? Saya sebenarnya sudah berjumpa beberapa kali dengan beliau. Karena mata saya silau dengan tampilan, maka saya tidak memperhatikan dari awal. Lalu dalam pelatihan terakhir yang saya ikuti, saya kembali berjumpa. Namun perjumpaan ini berbeda, karena saya sudah beberapa kali berkomunikasi dengan pesan elektronik. Orangnya sangat familiar –istilah ini untuk menunjukkan seseorang sangat bersahabat, dengan mentalitas yang sangat terbuka, dan menganggap orang lain dalam kelemahan juga memiliki masing-masing kekuatan.

Dari guru saya inilah saya dapat satu pengetahuan baru. Ia berpesan dengan konsep sederhana, bahwa ketika seseorang sudah mengirimkan artikelnya, maka ketika direspons dan dibalas oleh reviewer, jangan langsung melihat. Seorang penilai itu, ada yang sangat kejam. Istilah ini juga hanya untuk menunjukkan ada penilai yang tanpa kepentingan apapun. Semua hal yang kurang dari suatu manuskrip, akan dikritisi habis-habisan. Sasaran kritik pun tidak hanya orang yang tidak dikenal. Bahkan untuk orang yang dikenal pun, akan dilakukan hal yang sama. Berbeda dengan sebagian orang yang melakukan kritik secara tebang pilih. Orang yang tidak dikenal akan dikritisi habis-habisan, sedangkan mereka yang dikenal, diperlakukan sebaliknya.

Soal kritik ini juga tidak selalu sebagai sesuatu yang jelek. Setajam apapun reviewer yang dilakukan, seyogianya itu menguntungkan bagi penulis manuskrip. Orang yang manuskripnya dikiritisi secara tajam, justru akan mendapatkan banyak masukan bagi perbaikan dan pengetahuannya. Sebaliknya, orang yang sedikit mendapat masukan, justru sangat rugi karena tidak bisa mendapatkan evaluasi atas manuskripnya secara optimal. Di sinilah perlu kearifan dalam memaknai kejam atau tidak kejam posisi seorang reviewer. Posisi ini mungkin bisa kita manusiawikan dengan kata-kata mengevaluasi secara mendalam atas suatu manuskrip.

Guru saya memiliki penilaian sendiri tentang hal ini. menurutnya tidak semua orang memiliki kesiapan psikologis untuk menerima komentar reviewer –walaupun tujuan komentar tersebut hakikatnya sangat strategis bagi yang bersangkutan. Atas kenyataan inilah, penting bagi kita yang baru mendapatkan hasil review untuk mendiamkan terlebih dahulu. Paling tidak ada waktu untuk mengatur nafas terlebih dahulu. Mengatur nafas ini untuk memperkuat psikologis agar siap menerima komentar apapun. Pada saat yang sama, ada kesempatan untuk memperkuat diri bahwa komentar apapun pada dasarnya untuk membantu kita mengevaluasi tulisan yang kita kirim. Dengan mempersiapkan ini, maka pola pikir yang sudah terbentuk dalam benak banyak orang, kita balikkan menjadi sesuatu yang strategis. Komentar setajam apapun, sekejam apapun, pada dasarnya untuk membantu kita menyelesaikan masalah dalam dunia menulis. Orang-orang yang memberi komentar sudah memberi bantuan agar kita selesaikan manuskrip tersebut.

Dengan kondisi demikian, ketika membuka pesan, maka tidak ada yang patut digelisahkan. Tidak ada yang perlu ditakuti. Dengan menarik nafas demikian, apapun yang terasa menakutkan, menjadi sesuatu yang sangat kita butuhkan. Kita butuh makin banyak orang yang mengevaluasi tulisan kita. Dengan banyak masukan, membuat manuskrip semakin kaya dan pilihan menyelesaikan semakin mudah. Namun yang harus diingat, fokus manuskrip tetap harus dijaga. Jangan sampai semakin banyak orang yang memberi komentar, justru makin membuat isi manuskrip semakin bias dan tidak terarah. Nah, selama hal itu bisa terjaga, maka kita perlu membuka diri terhadap orang yang akan mengevaluasi.

Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.

Leave a Comment