Siapa Ingin Jadi Sosialita?

Saya sudah sering mendengar orang yang menyebut dirinya sebagai sosialita. Apakah ini aneh? Sebenarnya tidak juga. Jika istilah tersebut merujuk pada profesi, maka aktivitasnya memang diinginkan digembar-gemborkan. Hanya saja nanti dikaitkan dengan aktivitas sosialnya. Termasuk …

Saya sudah sering mendengar orang yang menyebut dirinya sebagai sosialita. Apakah ini aneh? Sebenarnya tidak juga. Jika istilah tersebut merujuk pada profesi, maka aktivitasnya memang diinginkan digembar-gemborkan. Hanya saja nanti dikaitkan dengan aktivitas sosialnya.

Termasuk orang yang kenal menyebut istilah ini. Istilah yang digunakan itu saya tanyakan maksudnya. Menurutnya, sosialita yang ia pahami karena ia selama ini juga memiliki jaringan media sosial. Dengan aktif di media sosial, menurutnya, sudah termasuk kategori sosialita.

Di sinilah menariknya. Saya ceritakan pemahaman saya tentang sosialita. Menurut saya, sosialita untuk orang yang dari segi strata –khususnya ekonomi—termasuk dalam kategori mapan. Artinya orang yang masuk kategori ini, kebutuhan materi hidupnya sudah lebih dari cukup. Syarat lain adalah mereka yang berkecukupan itu, memiliki semangat sosial yang tinggi –dalam arti suka menolong orang lain terkait dengan keadaan masyarakat di sekelilingnya.

Prinsipnya ada segolongan orang yang berkelas. Mereka memiliki tempat tersendiri dalam pergaulan masyarakat. Tempat tersebut berbeda dengan orang kebanyakan. Bahkan mereka sendiri juga memiliki kotak masing-masing. Segolongan tertentu bisa jadi memiliki tempat tertentu dengan lingkup pembicaraan tertentu dan suka pada hal tertentu. Misalnya sekelompok orang yang selalu bertemu di restoran mewah, berbicara selalu tentang sepatu mewah. Ada segolongan orang lain, bertemu di tempat lain dengan hal lain. Namun secara umum, ada juga yang suka pada semua hal: perhiasan, sepatu, tas mewah –yang harganya mungkin kalau dikasih tahu ke orang kampung, akan langsung terhenyak.

Nah, golongan inilah, yang kemudian mengorganisir diri untuk membantu orang lain dalam bentuk darma tertentu. Secara sosial, kehidupan mewah yang ingin hadir dalam hiruk pikuk jiwa sosial.

Saya katakan kepada orang yang saya kenal, begitulah pemahaman saya tentang sosialita. Hanya terbatas pada aktif di media sosial, belum tentu masuk dalam kategori ini.

Aktivitas yang dilakukan memang diketahui orang banyak. Memberi bantuan sosial, dengan lampur kamera kanan dan kiri. Membawa penulis berita dan cerita di dalamnya. Bukan tidak boleh. Semuanya sangat tergantung dari bagaimana cara pandang masing-masing.

Itulah yang saya maksud dengan sosialitas. Orang-orang yang berkelas, memiliki –atau mengakui—uang yang banyak, sehingga sebagiannya digunakan untuk aktivitas sosial. Pada saat yang sama, aktivitas itu diketahui oleh orang banyak.

Saya membayangkan mereka yang hidup berkelas, namun saat tertentu turun ke bawah, untuk menampakkan kelasnya. Dalam bentuk yang dilakukan dan sebagai bagian dari mendongkrak kelasnya tersebut.

Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.

Leave a Comment