Negara menyadari sepenuhnya bahwa rokok itu berdampak buruk bagi kesehatan. Dampak dari asap rokok ini bukan sesuatu yang sulit untuk dibuktikan. Masalahnya kita percaya atau tidak. Secara medis semua benda yang masuk dan menempel pada bagian dalam tertentu tubuh manusia, selalu bisa diuji. Apalagi dengan perkembangan alat teknologi kesehatan selama ini.
Secara religius dan kultural, ada satu pertanyaan yang juga selalu dipertanyakan. Apakah dengan sesuatu yang dilakukan manusia, dan itu disadari akan merusak bagian tubuh, apakah sesuatu yang dibolehkan? Tentu untuk urusan ini, ada para ahli tersendiri yang menjawabnya.
Hanya saja ada sejumlah realitas penolakan dalam kehidupan perokok, melalui anekdot yang saya kira akan merugikan kita sendiri. Katanya seorang perokok itu, justru ketika dilarang merokok, mereka akan merasakan sakit terlebih dahulu.
Padahal lewat bungkus-bungkus rokok juga, ancaman terhadap kesehatan sudah diperingatkan sedemikian rupa. Mudah-mudahan akan ada yang menulis tentang apa yang mengandung dalam rokok sehingga menurut pengakuan banyak perokok, sangat sulit seseorang berhenti sebagai perokok.
Namun upaya ini sendiri bukan tanpa hambatan. Dalam masyarakat Aceh, ada hambatan kultural penting yang hidup dan berkembang sedemikian rupa. Orang yang sudah dewasa sering diasosiasikan dengan boleh merokok. Bahkan orang yang sudah memiliki kerja yang berpenghasilan, dianggap yang pantas untuk merokok. Dalam konteks ini, rokok bagi sebagian masyarakat kita sudah dianggap sebagai lambang dari kemapanan dalam mencukupi kebutuhan.
Sesuai dengan kondisi di atas, sikap permisif ditunjukkan banyak orang. Asap rokok itu dianggap bukan sesuatu yang bermasalah. Jika kita berada di tempat umum, jarang sekali ada perokok yang meminta izin kepada orang yang tidak merokok di sekitarnya.
Realitas negatif juga saya temui dalam pergaulan sekeliling kita. Saat menegur mereka yang merokok, kita yang justru menjadi sasaran koreksi. Dalam kehidupan sosial, orang yang tidak merokok yang harus banyak mengalah.
Apa yang kita lihat di warung kopi menjadi realitas yang bisa dipotret. Ketika asap rokok bercampur dengan aroma kopi. Di warung yang padat, kita bahkan tidak bisa membedakan mana asap pemanas air untuk kopi dan mana asap dari sembulan mulut perokok.
Kondisi di atas tentu saja negatif. Orang tua harus diberikan informasi bahwa pendapatan tidak bisa dikaitkan langsung dengan bisa atau tidaknya seseorang untuk merokok. Kesan ini harus diubah. Apalagi kesan psikologi yang tidak kalah hebat, dalam mengaitkan keberadaan perokok dengan rasa percaya diri, bahkan tingkat kemapanan.
Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.